
Masa Depan Kratom: Menuju Herbal Legal yang Bertanggung Jawab. Kratom kini melangkah ke babak baru. Para petani, eksportir, dan pembuat kebijakan di Indonesia mulai bergerak bersama untuk melegalkan tanaman ini secara bertanggung jawab. Simak selengkapnya!
Kratom Pernah Hampir Masuk Daftar Hitam
Sebelumnya, tanaman herbal ini sempat dianggap sebagai NPS (New Psychoactive Substance) alias zat psikoaktif baru. Waktu itu, wacana pelarangan total sempat mengemuka dan membuat masa depan tanaman herbal ini di Indonesia terasa suram. Namun, seiring waktu dan diskusi antara pemerintah, peneliti, dan pelaku industri, arah kebijakan mulai berubah.
Kini Lebih Fokus ke Regulasi daripada Pelarangan
Daripada melarang total, pendekatannya kini lebih ke pengawasan dan kontrol. Ini tentu memberi napas lega bagi petani dan eksportir kratom yang telah lama menanti kejelasan hukum.
Regulasi Global: Amerika & Eropa Ambil Langkah Sendiri
AS Fokus ke Senyawa Berisiko Tinggi
Di Amerika Serikat, fokus perdebatan bergeser dari daun kratom ke senyawa aktifnya, terutama 7-Hydroxymitragynine (7-OH). Senyawa ini sedang dalam proses diklasifikasikan sebagai zat golongan Schedule I setara dengan heroin atau LSD karena dinilai berisiko tinggi bagi kesehatan.
Negara Bagian Ambil Sikap Berbeda-beda
Beberapa negara bagian di AS memilih memberlakukan larangan total, sementara yang lain menerapkan aturan moderat seperti batas usia, label peringatan, atau standar keamanan. Di sisi lain, mulai terlihat upaya mendorong pendekatan berbasis mutu dan transparansi, mirip dengan regulasi untuk produk herbal lainnya.
Pasar Kratom Global: Semakin Besar, Semakin Kompetitif
Nilai Pasar Naik Tajam dalam 10 Tahun
Pada tahun 2023, nilai pasar global kratom tercatat mencapai sekitar US$ 5,62 miliar. Tapi itu baru permulaan. Artinya, pasar ini tumbuh cepat dan penuh potensi.
Kesimpulan : Masa Depan Kratom
Dengan regulasi ekspor yang lebih ketat dan sistem kontrol yang menyeluruh, Indonesia sedang membuka jalan bagi kratom untuk naik kelas di pasar global. Tapi, tantangan masih ada. Pencampuran dengan senyawa sintetis berbahaya seperti 7-OH dapat merusak reputasinya yang alami, sehingga kita harus mencegahnya bersama-sama.
Solusinya? Fokus pada produknya asli, alami, dan legal. Lengkapi dengan sertifikasi mutu, jejak pasokan yang jelas, dan praktik budidaya yang berkelanjutan.

