Commodity Indonesia

Mengapa Bisnis Kratom Jadi Harapan Baru Komoditas Indonesia

Di tengah dinamika ekonomi global dan perlombaan negara-negara untuk memperkuat ekspor unggulannya, Indonesia justru menemukan peluang besar dari komoditas yang dulu dipandang sebelah mata: kratom. Dari pedalaman Kalimantan hingga pasar internasional, kratom mulai mencuri perhatian dunia. Apa yang membuat bisnis ini jadi harapan baru bagi ekspor Indonesia? Mari kita telusuri.

1. Indonesia: Pionir di Pusat Pasar Global

Indonesia tak main-main dalam urusan kratom. Negeri ini menyuplai sekitar 95% kebutuhan kratom dunia, menjadikannya pemain utama dalam industri ini. Bahkan, hanya di Kalimantan Barat, lebih dari 200.000 rumah tangga menggantungkan hidupnya pada budidaya dan pengolahan kratom. Angka ini tidak hanya mencerminkan skala produksi, tetapi juga menunjukkan bagaimana kratom telah menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

2. Permintaan Ekspor Meledak dalam Waktu Singkat

Tak butuh waktu lama bagi kratom Indonesia untuk menembus pasar global. Pada Februari 2025, Indonesia mengirimkan ekspor perdana bubuk kratom ke Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa. Nilainya tak main-main: USD 1,06 juta atau sekitar Rp 17,4 miliar hanya dari 351 ton produk dalam 13 kontainer.

Lebih mengejutkan lagi, para eksportir berhasil menjual kratom olahan (seperti ekstrak) hingga USD 6.000 per kilogram di pasar luar negeri. Capaian ini menunjukkan besarnya potensi margin keuntungan yang bisa mereka raih di pasar global.

3. Regulasi yang Semakin Progresif dan Melindungi

Kehadiran regulasi baru pun ikut membuka jalan. Sejak September 2024, pemerintah mengesahkan Permendag 20/2024 dan 21/2024 yang secara resmi melegalkan jalur ekspor kratom. Bukan cuma legal, aturan ini juga menetapkan standar mutu dan klasifikasi produk, sekaligus menjamin perlindungan bagi petani lokal.

Dengan adanya kontrol kualitas dan kejelasan hukum, pelaku usaha pun kini lebih percaya diri untuk menembus pasar ekspor.

4. Pasar Dunia Siap Menyambut

Kratom bukan sekadar tren sesaat. Nilai pasar globalnya diperkirakan akan melonjak dari USD 5,62 miliar (2023) menjadi USD 15,9 miliar pada 2032, tumbuh dengan CAGR 12–17%. Bahkan segmen kecil seperti kapsul kratom diprediksi tumbuh dari USD 218 juta (2024) menjadi USD 376 juta (2032).

Artinya, kratom punya ceruk pasar yang luas baik sebagai bahan mentah maupun produk jadi dan Indonesia berada di posisi strategis untuk mengisi kebutuhan tersebut.

5. Petani Lokal, Kini Punya Panggung Global

Yang tak kalah penting: kratom membuka peluang bagi petani tradisional untuk naik kelas. Petani-petani di Kalimantan, yang selama ini bekerja dalam sistem informal, kini melihat harapan baru. Lewat ekspor dan dukungan pemerintah, mereka bisa masuk ke rantai nilai global dan mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi.

Tak hanya itu, pemerintah juga tengah mendorong hilirisasi industri kratom, agar manfaat ekonominya tak hanya berhenti di hulu, tapi juga menguntungkan pelaku lokal hingga ke tingkat hilir.

Kesimpulan

Pelaku bisnis kratom telah membuktikan bahwa mereka mampu membawa komoditas lokal bersaing di pasar global dengan mengandalkan dukungan regulasi, inovasi produk, dan kesiapan pasar. Di tangan Indonesia, kratom bukan hanya sekadar daun ta pi peluang emas untuk mengangkat ekonomi desa dan memperkuat posisi ekspor nasional.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top